Sejarah STUDIUM ET SAPIENTIA
Pada perayaan dalam rangka memperingati Hari Jadi SMA Negeri IV diawal
tahun 1971 diadakan berbagai pertandingan dan perlombaan.Salah satu perlombaan tersebut adalah lomba menggambar lambang SMA IV Malang.Lomba ini diikutioleh siswa-siswi SMA IV dan dimenangkan oelh peserta putri dari kelas II IPS.Namanya Suhita Dewi yang sekarang bertempat tinggal di jalan dempo 8 Malang.Gambar pemenang itu diabadikan dan dijadikan lambang kebanggaan para siswa SMA IV Malang, dan disangga seutas pita putih yang bertuliskan motto SMA Negeri 4 Malang.
Sampai sekarang gambar lambang tersebut telah mengalami perubahan seirama dengan perubahan waktu;semisal perubahan tulisan SMAN IV menjadi SMU 4.Yang tidak berubah adalah gambar tugu dalam bingkai yang mlambangkan tugu kebanggaan masyarakat Malang yang berdiri dengan kokohnya persis diantara Bali Kota Malang dan gedung SMA Negeri 4 Malang,serta pita penyangga gambar tugu tersebut.
Bapak JA. Ruslanadi Almarhum,guru seni rupa SMU 4 yang waktu itu beralamat dijalan Ngantang 44 Malang,menambahkan pada pita digambar/lambang pemenang lomba tersebut dengan kata atau frase yang berbunyi STADIUM ET SAPIENTIA.Kata-kata ini bersal dari bahasa latin yang mempunyai arti :Belajar(STUDIUM) dan(ET) Bijaksana(SAPIENTIA).Ini sesuai dengan kenyataan bahwa kegiatan yang dominan disekolah adalah belajar dengan menggunakan nalar dan akal budi yang bijaksana.Motto ini sering dipendekkan atau diakronimkan menjadi STETSA yang sekaligus dijadikan jati dri almamater.
Pada pertengahan bulan september 1958, SMA I AC dipecah menjadi dua SMA oleh pemerintah, yaitu SMA I AC dan SMA IV AC, dengan surat keputusan pemecahan Nomor 4 3/ SK/B.III tanggal 16 september1958. Sejak turunnya surat keputusan itu, SMA IV AC Malang memutuskan untuk menempati sebuah gedung diluar kompleks SMA Tugu untuk melangsungkan kegiatan belajar mengajarnya, yaitu di Jalan Klenteng Malang yang sekarang telah berubah menjadi Jalan Martadinata yang sekarang ditempati oleh SMU Negeri 2 Malang. Tetapi SMA II B, yang berada di kompleks SMA Tugu, justru memilih menempati gedung di Jalan Martadinata tersebut. Ini cukup beralasan sebab bersamaan saat itu SMA II B ditunjuk pemerintah sebagai salah satu peserta Proyek Percontohan SMA Teladan. Dengan demikian gedung SMA IV ditukar dengan gedung SMA 2 Malang yang berada di Jalan Martadinata dan SMU Negeri 4 menempati gedung di kompleks SMU Tugu, tepatnya di Jalan Tugu Utara 1 Malang, dengan ciri dan keistimewaan yang unik, berbeda dengan SMU yang lain di Malang.
Meskipun Surat Keputusan Pemecahan bertanggal 16 September 1958, SMA IV Malang baru memulai kegiatan persekolahan dan pendidikannya pada awal tahun berikutnya, yaitu pada tanggal 5 Januari 1959. Oleh karenanya , sejak saat itu, tanggal 5 Januari ditetapkan sebagai Hari Jadi Sejarah SMUN 4 MALANG.
Adapun kepala sekolah yang pernah memimpin SMA Negeri 4 Malang:
Bapak R. Gunadi (tahun 1959-1964)
Bapak Syafuddin (tahun 1964-1965)
Bapak Drs. Soejitno H S (tahun 1965-1982)
Bapak Drs. R. Soekotjo (tahun 1982-1987)
Bapak Abdul Syukur,BA (tahun 1987-1993)
Bapak Soeamadji, BA (tahun 1993-1995)
Bapak Drs. HM Kamilun M
(tahun 1995-1998)
Bapak Drs. Munadjat
(tahun 1998-2001)
Bapak Drs. Riyanto MM. SH.
(tahun 2001)
Bapak R. Mudjono Sudiono S. Pd
(tahun 2001-2006)
Drs. Moch Sulton
(tahun 2006-2007)
Drs. H. Suryani Ali Pandi
(tahun 2007-2009)
Drs. H. Tri Suharno
(tahun 2009-sekarang)
